Penelitian Ungkap IQ Generasi Z Lebih Rendah dari Milenial, Teknologi Digital Jadi Sorotan

admin

Sebuah studi terbaru tentang kecerdasan antargenerasi mengungkapkan bahwa , yang lahir antara akhir 1990-an hingga awal 2010-an, berpotensi menjadi generasi pertama yang memiliki skor lebih rendah dalam ukuran kognitif inti dibandingkan generasi Milenial. Penurunan ini mencakup aspek perhatian, memori, kemampuan pemecahan masalah, serta IQ secara keseluruhan.

Temuan ini disampaikan oleh ahli saraf dan pendidik, Dr. , Ph.D, MEd, dalam kesaksian tertulisnya kepada Komite Senat AS untuk Perdagangan, Sains, dan Transportasi pada tahun 2026. Dr. Horvath menyatakan bahwa selama dua dekade terakhir, aspek inti perkembangan kognitif, termasuk literasi, numerasi, perhatian, dan penalaran tingkat tinggi, cenderung stagnan bahkan mengalami penurunan di banyak negara maju. Penurunan ini mulai terlihat sekitar tahun 2010, bertepatan dengan adopsi luas di ruang kelas.

Ironisnya, generasi yang diharapkan memimpin gelombang inovasi berikutnya dan hidup berdampingan dengan teknologi canggih justru disebut mengalami kesulitan dalam membaca kalimat secara mendalam maupun menyelesaikan soal matematika dasar. Penelitian dari Stanford University menemukan bahwa kelancaran membaca lisan siswa kelas dua dan tiga turun hampir 30 persen, terutama pada siswa dari kota berpenghasilan rendah. Sementara itu, riset Harvard University menunjukkan perbedaan dalam pemrosesan fonologis, kemampuan mendekode bahasa tertulis, dapat terlihat sejak usia 18 bulan.

Dr. Horvath mengaitkan tren penurunan ini terutama dengan ekspansi pesat dan relatif tidak terregulasi dari teknologi digital serta teknologi di ruang kelas. Ia menjelaskan bahwa otak manusia belajar paling efektif melalui interaksi langsung antar manusia dan fokus mendalam, bukan melalui paparan layar yang terus-menerus. Desain platform digital yang mendorong distraksi, membaca dangkal, dan perpindahan tugas yang cepat, alih-alih pemikiran mendalam, dinilai menjadi persoalan utama.

Ketergantungan pada kecerdasan buatan (AI) dan konten visual singkat juga disebut merusak proses berpikir kritis yang seharusnya diasah melalui studi mendalam. Ketergantungan berlebihan pada AI dapat membuat mahasiswa terbiasa menerima jawaban instan tanpa proses analisis mendalam, serta melemahkan kemampuan berpikir kritis.

Fenomena ini diperparah dengan menurunnya kebiasaan membaca mendalam. Data National Literacy Trust (2024) menunjukkan hanya sekitar satu dari tiga anak usia 8-18 tahun yang menikmati membaca di waktu luang, dan hanya satu dari lima yang membaca setiap hari. Penelitian dari University of Florida dan University College London (2025) mencatat bahwa kebiasaan membaca harian pada siswa dan orang dewasa di AS telah menurun lebih dari 40 persen dalam dua dekade terakhir.

Meskipun demikian, sejumlah ahli juga berpendapat bahwa tes IQ tradisional mungkin tidak sepenuhnya menangkap kemampuan kognitif yang berkembang pada Gen Z, seperti kemampuan navigasi digital, multitasking, dan pemrosesan informasi secara cepat. Para pakar menekankan bahwa kecerdasan bukan hanya faktor bawaan, tetapi juga diasah melalui latihan berpikir, pemecahan masalah, dan keterlibatan kognitif yang mendalam.

Kondisi ini dinilai sebagai realitas yang tidak bisa diabaikan, karena jika dibiarkan, berpotensi melemahkan fondasi sistem pendidikan. Oleh karena itu, diperlukan adaptasi sistem pendidikan, termasuk memikirkan ulang cara membaca dengan menggabungkan praktik membaca mendalam dan literasi digital. Komunitas pendidikan di berbagai negara kini mulai mengevaluasi kembali pola integrasi teknologi di sekolah, mendorong pendekatan yang lebih seimbang antara pemanfaatan perangkat digital dan metode pembelajaran tradisional.

Dalam konteks global, laporan International IQ Test (IIT) 2026 menunjukkan kawasan Asia Timur mendominasi posisi teratas. Sementara itu, Indonesia menempati peringkat ke-126 dari total 137 negara dengan skor rata-rata IQ 89,96 per 1 Januari 2026, turun sekitar 3 poin dari tahun sebelumnya. Perbedaan skor antarnegara ini tidak semata-mata mencerminkan kecerdasan murni, melainkan juga dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti kualitas pendidikan, pemerataan akses belajar, serta kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.

Bagikan:

Related Post

Leave a Comment

Google