Data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) untuk Januari 2026 menunjukkan kekuatan yang mengejutkan, jauh melampaui perkiraan para analis. Laporan ini segera memicu pergeseran ekspektasi di pasar keuangan global, terutama terkait kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) dan pergerakan nilai tukar Dolar AS. <cite: 3, 4, 10, 15, 17, 21, 26, 28]
Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) pada Rabu, 11 Februari 2026, melaporkan bahwa ekonomi AS menambah 130.000 pekerjaan non-pertanian (Non-Farm Payrolls/NFP) pada Januari. Angka ini jauh lebih tinggi dari revisi Desember 2025 sebesar 48.000 dan melampaui proyeksi konsensus analis sebesar 70.000 hingga 75.000. <cite: 2, 3, 4, 10, 14, 15, 17, 21, 26, 28] Penambahan lapangan kerja ini menjadi yang tertinggi sejak Desember 2024. <cite: 2, 17]
Tingkat Pengangguran Turun, Upah Naik
Selain NFP yang solid, tingkat pengangguran AS juga secara tak terduga turun menjadi 4,3% pada Januari, dari 4,4% pada Desember 2025. <cite: 1, 3, 4, 6, 10, 15, 17, 18, 21, 23, 26] Penurunan ini sedikit di bawah ekspektasi pasar yang memprediksi tingkat pengangguran akan tetap stabil di 4,4%. <cite: 1, 17] Jumlah pengangguran menurun sebanyak 141.000 menjadi 7,36 juta, sementara total pekerjaan meningkat sebanyak 528.000 menjadi 164,52 juta. <cite: 1, 17] Angkatan kerja juga berkembang sebanyak 387.000, meningkatkan tingkat partisipasi sebesar 0,1 poin persentase menjadi 62,5%. <cite: 1, 17]
Pertumbuhan lapangan kerja didominasi oleh sektor kesehatan yang menambah 82.000 posisi, diikuti oleh bantuan sosial (+42.000) dan konstruksi (+33.000). <cite: 2, 3, 6, 12, 15, 17] Sebaliknya, pemerintah federal kehilangan 34.000 pekerjaan dan sektor aktivitas keuangan berkurang 22.000 pekerjaan. <cite: 2, 3, 6, 12] Sementara itu, rata-rata pendapatan per jam naik 15 sen atau 0,4% menjadi $37,17 pada Januari, dengan pertumbuhan upah tahunan mencapai 3,7%. <cite: 6, 10, 12, 26]
Implikasi terhadap Kebijakan The Fed
Data pasar tenaga kerja yang kuat ini segera meredakan kekhawatiran tentang kondisi ekonomi AS setelah perlambatan tajam pada tahun 2025, di mana pertumbuhan pekerjaan non-pertanian direvisi turun secara signifikan menjadi rata-rata 15.000 per bulan dari laporan awal 49.000 per bulan. <cite: 4, 6, 15] Kondisi pasar tenaga kerja yang solid ini memperkuat pandangan bahwa ekonomi AS masih cukup tangguh, memberikan ruang bagi The Fed untuk bersabar dalam menyesuaikan kebijakan moneternya. <cite: 11, 16, 23, 26]
Pada pertemuan Januari 2026, The Fed telah memutuskan untuk mempertahankan suku bunga federal funds di kisaran target 3,5%-3,75%, mengakhiri tiga kali pemotongan suku bunga berturut-turut pada akhir 2025. <cite: 5, 9] Meskipun ada dua pejabat yang mendukung pemotongan suku bunga 25 basis poin tambahan, mayoritas anggota memilih untuk menunggu data ekonomi lanjutan. <cite: 5, 9] Dengan rilis data Januari yang kuat ini, probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan Maret 2026 melonjak signifikan, mencapai 94,1% menurut alat CME FedWatch. <cite: 9, 17, 18, 26] Pelaku pasar kini memangkas ekspektasi pemotongan suku bunga pertama pada tahun ini, dari Juni menjadi Juli 2026. <cite: 4, 23]
Reaksi Pasar Global
Pasar keuangan global bereaksi cepat terhadap laporan tenaga kerja AS. Indeks Dolar AS (DXY) menguat, stabil di atas level 97 pada Kamis, 12 Februari 2026, didukung oleh data yang lebih kuat dari perkiraan. <cite: 3, 18, 21, 23, 25, 26] Imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury yields) juga naik, dengan yield Treasury 10 tahun melonjak mendekati 4,2%, mencerminkan ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama. <cite: 3, 4, 21, 28]
Di Wall Street, indeks saham menunjukkan pergerakan bervariasi. Indeks Dow Jones Industrial Average naik 0,41% menjadi 50.415,98, S&P 500 meningkat 0,54% menjadi 6.979,08, dan Nasdaq Composite menguat 0,55% menjadi 23.229,43 pada Rabu, 11 Februari 2026. <cite: 23] Namun, beberapa laporan juga mencatat volatilitas, dengan S&P 500 sempat mendekati rekor tertinggi sebelum berfluktuasi. <cite: 28] Harga emas berjangka juga naik, namun peningkatannya terbatas oleh penguatan Dolar AS. <cite: 23]
Sementara itu, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS melemah. Pada Kamis, 12 Februari 2026, Rupiah turun sekitar 0,48% ke kisaran Rp16.832 per Dolar AS, tertekan oleh sentimen eksternal dari data ekonomi AS yang kuat. <cite: 26] Rupiah ditutup melemah di level Rp16.810 per Dolar AS pada perdagangan Kamis. <cite: 25]
Fokus Selanjutnya: Data Inflasi
Perhatian investor kini beralih ke rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS untuk Januari 2026 yang dijadwalkan pada Jumat, 13 Februari 2026. <cite: 18, 25, 26, 33] Konsensus pasar memperkirakan inflasi tahunan akan melambat menjadi 2,5% dari 2,7% pada Desember 2025, dengan inflasi inti juga diperkirakan melambat. <cite: 25] Data inflasi ini akan menjadi penentu utama arah kebijakan The Fed selanjutnya, terutama setelah laporan tenaga kerja yang lebih baik dari perkiraan. <cite: 25, 33]
Leave a Comment