Persebaya Surabaya tengah menikmati periode impresif di Super League 2025/2026, mencatatkan 13 pertandingan tanpa kekalahan. Menariknya, di balik performa gemilang ini, sorotan tertuju pada jersey tandang berwarna kuning yang kini dianggap sebagian Bonek sebagai jimat keberuntungan. Padahal, saat pertama kali dirilis, seragam ini sempat memicu komentar unik, bahkan sindiran ‘toping liga rasa keju’ dari para suporter setia.
Kontroversi Awal dan Filosofi Desain
Pada awal Agustus 2025, Persebaya Surabaya secara resmi meluncurkan seragam baru mereka untuk mengarungi Super League musim 2025/2026. Dalam peluncuran tersebut, tim berjuluk Bajul Ijo memperkenalkan jersey kandang berwarna hijau, jersey tandang berwarna kuning dengan strip hijau di bagian pundak, serta dua jersey penjaga gawang.
Desain jersey musim ini disebut sarat makna, mengusung tema multikultural yang merefleksikan keberagaman Kota Surabaya. Terdapat pola khas dari berbagai unsur budaya, termasuk pola Suroboyo yang digambarkan melalui bentuk daun semanggi, ornamen Medieval untuk masyarakat keturunan Eropa, pola Arab untuk komunitas di kawasan Ampel, dan pola Tionghoa yang melambangkan kemakmuran. Khusus jersey tandang kuning, inspirasinya datang dari kota tua Surabaya yang kokoh dengan bangunan peninggalan kolonial Belanda.
Namun, tak lama setelah dirilis, jersey tandang kuning ini sempat menjadi perbincangan di kalangan Bonek. Beberapa suporter melontarkan kritik dan komentar ‘nyeleneh’ terkait desainnya. Salah satu komentar yang paling mencuri perhatian adalah sindiran, “Toping liga rasa keju nii bwoosss,” dari akun @jen***. Komentar ini mengindikasikan adanya pandangan bahwa desain tersebut kurang sesuai atau memiliki elemen yang dianggap aneh oleh sebagian penggemar.
Pergeseran Persepsi: Dari Kritik Menjadi Hoki
Seiring berjalannya waktu dan performa tim yang menanjak, pandangan Bonek terhadap jersey kuning ini mulai bergeser. Persebaya Surabaya mencatatkan rekor tak terkalahkan dalam 13 pertandingan Super League musim ini. Dari 13 laga tersebut, enam di antaranya adalah laga kandang dan tujuh laga tandang. Meskipun hasil kandang dan tandang relatif berimbang, muncul anggapan di kalangan Bonek bahwa Persebaya justru tampil lebih garang saat bermain di luar kandang, terutama ketika mengenakan jersey kuning.
Anggapan ini semakin kuat setelah Persebaya meraih kemenangan meyakinkan di dua laga tandang terakhir, menundukkan PSIM Yogyakarta 0-3 dan Bali United 1-3, keduanya saat mengenakan seragam kuning. Fenomena ini membuat Bonek dan Bonita kini mengaitkan jersey kuning dengan ‘hoki’ atau keberuntungan. Bahkan, ada komentar yang menyebut, “Nek away kok penak yo maine masio pemainmu dihantam cedera, main ke GBT isok semrawut,” yang menunjukkan kebingungan Bonek mengapa tim lebih ‘gacor’ di laga tandang.
Tanggapan Pelatih dan Jersey Lainnya
Menanggapi fenomena ini, pelatih Persebaya, Bernardo Tavares, menegaskan bahwa ia tidak ingin larut dalam mitos warna jersey. Pelatih asal Portugal itu memilih untuk tetap fokus pada kesiapan tim dan strategi pertandingan. Sebelumnya, pada November 2025, pelatih Eduardo Perez juga menyatakan menghormati setiap kritik dari suporter, menganggapnya sebagai motivasi bagi tim untuk bekerja lebih keras. “Ketika kamu bekerja di perusahaan atau klub ini, kamu harus siap mendengar berbagai pendapat. Saya menghormati semua opini,” ujar Eduardo Perez.
Selain jersey kandang dan tandang, Persebaya juga telah merilis jersey alternatif (ketiga) pada November 2025 yang membawa nuansa klasik musim 1996/1997. Terbaru, pada 10 Februari 2026, Persebaya meluncurkan jersey keempat bertema Imlek, memadukan warna merah dan hijau, yang rencananya akan digunakan saat menghadapi Bhayangkara Presisi Lampung FC. Jersey Imlek ini dibanderol dengan harga Rp 598.000. Seluruh jersey Persebaya musim ini diproduksi bekerja sama dengan AZA Wear, menggunakan bahan ringan (135 gsm) dengan teknologi anti-bakteri dan cepat kering untuk menunjang performa pemain.






Leave a Comment