BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem Jelang Awal Ramadan 2026, Sejumlah Wilayah Siaga Hujan Lebat

admin

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika () mengeluarkan terkait potensi yang diprediksi melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Fenomena ini diperkirakan berlangsung pada 15 hingga 21 Februari 2026, bertepatan dengan momentum awal bulan suci Ramadan 1447 Hijriah. Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi.

Awal sendiri diperkirakan jatuh pada 18 Februari menurut perhitungan Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Agama memprakirakan 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026, dengan penetapan resmi menunggu hasil sidang isbat yang rencananya digelar pada 17 Februari 2026. Prediksi serupa juga diumumkan oleh beberapa negara lain seperti Australia, Singapura, dan Turki yang memperkirakan awal Ramadan pada 19 Februari.

Potensi Hujan Lebat dan Angin Kencang

BMKG telah merilis peringatan dini cuaca untuk periode 15-16 Februari 2026, dengan sejumlah provinsi masuk kategori Siaga dan Waspada. Tidak ada wilayah yang berstatus Awas (hujan sangat lebat-ekstrem) pada periode tersebut. Namun, status Siaga menunjukkan potensi dampak signifikan seperti banjir dan longsor yang dapat mengganggu infrastruktur dan layanan publik.

Untuk periode 15-16 Februari 2026, wilayah yang berpotensi mengalami hujan lebat hingga sangat lebat (Siaga) meliputi Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku Utara, dan Papua Tengah. Khusus pada 16 Februari, DKI Jakarta, khususnya Jakarta Selatan, juga meningkat ke level Siaga. Sementara itu, beberapa provinsi lain seperti Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Lampung, Banten, Bali, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku juga berstatus Waspada (hujan sedang-lebat). BMKG juga sempat mengeluarkan peringatan dini angin kencang untuk Banten, Maluku, dan Sulawesi Selatan pada 14-15 Februari.

Potensi cuaca ekstrem ini diperkirakan berlanjut. Pada 17-18 Februari 2026, wilayah Aceh, Sumatera Barat, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah masih berpotensi dilanda cuaca ekstrem. Kemudian, pada 20-21 Februari 2026, Sumatera Barat, Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT juga diprediksi mengalami cuaca ekstrem. Secara umum, wilayah Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, dan Sulawesi bagian utara menjadi fokus perhatian BMKG untuk potensi peningkatan curah hujan hingga 21 Februari 2026.

Faktor Pemicu Dinamika Atmosfer

Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menjelaskan bahwa hasil analisis terkini menunjukkan penguatan Monsun Asia yang membawa aliran angin baratan dominan. Kondisi ini mempercepat pertumbuhan awan konvektif di wilayah Indonesia bagian barat dan selatan. Selain itu, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) yang berada pada fase Samudra Hindia turut memperkuat potensi anomali curah hujan. Gelombang atmosfer Kelvin dan Rossby juga mendukung terbentuknya perlambatan dan belokan angin (konvergensi), khususnya di pesisir selatan Jawa hingga Nusa Tenggara.

Faktor lain yang memicu peningkatan curah hujan adalah adanya sirkulasi siklonik di perairan Samudra Hindia barat Sumatera, yang memicu daerah konvergensi dan pembentukan awan hujan masif. Fenomena konfluensi atau penggabungan arus angin juga menciptakan kondisi kondusif bagi pertumbuhan awan konvektif dan hujan lebat. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menambahkan bahwa La Nina lemah yang masih aktif saat ini juga berkontribusi pada peningkatan curah hujan, meskipun diprediksi akan melemah hingga Maret 2026 dan beralih ke fase netral mulai April.

Imbauan dan Mitigasi BMKG

BMKG mendefinisikan cuaca ekstrem sebagai kondisi cuaca yang tidak normal dan tidak lazim, ditandai dengan pengamatan unsur-unsur cuaca yang melebihi ambang batas tertentu, dan umumnya dapat menimbulkan bencana hidrometeorologi. Dampak yang mungkin terjadi antara lain banjir, banjir bandang, tanah longsor, dan pohon tumbang.

Mengingat kondisi ini, BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca terbaru dan peringatan dini melalui kanal-kanal resmi BMKG. Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani menekankan pentingnya kewaspadaan, meskipun secara klimatologi cuaca ekstrem cenderung melandai dari Februari ke Maret. “Terus kita antisipasi walaupun secara klimatologi ataupun musiman ini melandai Februari ke Maret, tetapi ketika ada muncul bibit siklon di selatan ataupun siklon tropis, nah ini yang perlu kita antisipasi dapat meningkatkan tadi potensi cuaca ekstrem itu tadi,” ujarnya.

Pemerintah daerah dan instansi terkait juga diharapkan memperkuat kesiapsiagaan serta langkah mitigasi sesuai dengan tingkat risiko dan karakteristik kerentanan wilayah masing-masing. BMKG juga telah menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) secara situasional di sejumlah wilayah rawan bencana untuk menekan intensitas hujan ekstrem.

Prediksi Hingga Lebaran 2026

Potensi cuaca ekstrem dengan intensitas hujan sedang hingga lebat diprediksi masih akan melanda sejumlah wilayah Indonesia hingga Maret 2026, bertepatan dengan momentum Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah yang diperkirakan jatuh pada 21-22 Maret 2026. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa Indonesia masih berada pada periode puncak musim hujan pada Januari-Februari, yang kemudian akan melandai. Namun, hujan dengan intensitas tinggi masih berpotensi terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia, terutama pada akhir Februari hingga awal Maret 2026. Musim kemarau 2026 di Indonesia sendiri diprakirakan mulai berlangsung pada April.

Bagikan:

Related Post

Leave a Comment

Google