Proyeksi Ekonomi Global 2026: Pertumbuhan Stabil di Tengah Tantangan Geopolitik dan Inflasi Melandai

admin

Lanskap pada tahun 2026 diproyeksikan menunjukkan ketahanan yang stabil, meskipun diwarnai oleh berbagai tantangan geopolitik dan fragmentasi perdagangan. Dana Moneter Internasional () dan menjadi dua lembaga yang merilis proyeksi optimistis, didorong oleh investasi teknologi dan meredanya tekanan .

Pertumbuhan Ekonomi Global Dipatok Stabil

IMF dalam pembaruan laporan World Economic Outlook Januari 2026, merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,3 persen untuk tahun 2026. Angka ini 0,2 poin persentase lebih tinggi dibandingkan proyeksi Oktober 2025 dan menandai tahun ketiga berturut-turut pertumbuhan di level yang sama. Sementara itu, Bank Dunia melalui laporan Global Economic Prospects Januari 2026, memproyeksikan Produk Domestik Bruto (PDB) riil global akan meningkat 2,6 persen pada 2026, juga direvisi naik dari perkiraan Juni 2025 sebesar 2,3 persen.

Proyeksi serupa datang dari Association of Chartered Certified Accountants (ACCA) yang memperkirakan pertumbuhan global akan tetap di atas 3 persen pada 2026. Goldman Sachs Research bahkan lebih optimistis dengan proyeksi pertumbuhan 2,8 persen, melampaui konsensus 2,5 persen. Namun, di balik angka-angka ini, Bank Dunia mengingatkan bahwa dekade 2020-an berpotensi menjadi dekade terlemah bagi pertumbuhan global sejak tahun 1960-an.

Inflasi Global Mereda, Namun Tetap Waspada

Salah satu kabar baik adalah proyeksi penurunan inflasi global. IMF memperkirakan inflasi akan melambat dari 4,1 persen pada 2025 menjadi 3,8 persen pada 2026, dan terus menurun hingga 3,4 persen pada 2027. Bank Dunia juga memproyeksikan inflasi global akan turun menjadi 2,6 persen pada 2026. Penurunan ini didukung oleh melemahnya pasar tenaga kerja dan harga energi yang lebih rendah. Meskipun demikian, inflasi di Amerika Serikat diperkirakan akan kembali ke target secara lebih bertahap dibandingkan ekonomi besar lainnya.

Di kawasan Asia-Pasifik, inflasi diproyeksikan berada di angka 2,4 persen pada 2025, turun dari 2,6 persen pada 2024, berkat penurunan harga energi dan stabilitas pasokan pangan. Untuk Indonesia sendiri, inflasi pada Januari 2026 tercatat 2,3 persen year-on-year (YoY), menunjukkan kondisi yang terkendali dengan baik. Namun, beberapa negara masih menghadapi tantangan inflasi yang signifikan, seperti Turki yang Bank Sentralnya memproyeksikan inflasi di kisaran 15-21 persen pada akhir 2026.

Pendorong Pertumbuhan dan Risiko yang Membayangi

Investasi pada teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), menjadi salah satu pendorong utama ketahanan ekonomi global. Dukungan fiskal dan moneter yang akomodatif, serta kemampuan adaptasi sektor swasta, turut menopang pertumbuhan. IMF juga mencatat adanya pergeseran kontribusi pertumbuhan, di mana pasar berkembang diprediksi akan mengambil peran yang lebih besar dibandingkan negara-negara maju.

Namun, sejumlah risiko tetap membayangi. Ketegangan perdagangan dan fragmentasi ekonomi, ketidakpastian geopolitik, serta tingginya utang publik di negara maju dapat memicu volatilitas pasar keuangan. Bank Dunia secara spesifik mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi dunia bisa tersandung jika ketegangan perdagangan meningkat, hambatan perdagangan makin tinggi, atau sentimen pasar keuangan memburuk.

Agenda Bank Sentral Dunia 2026

Bank-bank sentral utama dunia telah merilis jadwal pertemuan kebijakan moneter mereka untuk tahun 2026, yang akan menjadi sorotan pasar keuangan:

  • Federal Reserve (FOMC) AS: Dijadwalkan delapan kali pertemuan, antara lain pada 17-18 Maret, 28-29 April, 16-17 Juni, 28-29 Juli, 15-16 September, 27-28 Oktober, dan 8-9 Desember.
  • European Central Bank (ECB): Pertemuan kebijakan moneter akan berlangsung pada 4-5 Februari, 18-19 Maret, 29-30 April, 10-11 Juni, 22-23 Juli, 9-10 September (diselenggarakan di Deutsche Bundesbank), 28-29 Oktober, dan 16-17 Desember.
  • Bank of Japan (BoJ): Pertemuan kebijakan moneter dijadwalkan pada 22-23 Januari, 18-19 Maret, 26-27 April, 14-15 Juni, 29-30 Juli, 16-17 September, 29-30 Oktober, dan 17-18 Desember.

Bank sentral secara umum diperkirakan akan melanjutkan pemotongan suku bunga secara hati-hati pada 2026, menyeimbangkan stabilitas dan pertumbuhan. Bank Indonesia (BI) sendiri menegaskan akan menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan memanfaatkan ruang penurunan BI-Rate lebih lanjut jika inflasi tetap terkendali pada target 2,5 persen ±1 persen.

Indonesia di Tengah Dinamika Global

Indonesia menunjukkan performa ekonomi yang kuat di tengah ketidakpastian global. PDB Indonesia diproyeksikan tumbuh 4,9 persen pada 2026, mengungguli negara-negara maju seperti China (4,2%), Amerika Serikat (2,1%), Jepang (0,6%), dan Jerman (0,9%). Neraca perdagangan Indonesia juga mencatat surplus selama 68 bulan berturut-turut, dengan total USD 2,51 miliar.

Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memastikan kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan Indonesia tetap terjaga pada kuartal IV 2025, didukung oleh koordinasi dan sinergi antarotoritas. Selain itu, Indonesia akan menandatangani Agreement on Reciprocal Trade (ART) dengan Amerika Serikat, yang mencakup pemangkasan tarif impor AS untuk produk-produk Indonesia seperti sawit, kopi, minyak kelapa, dan kakao.

Bagikan:

Related Post

Leave a Comment

Google